Arsip Kategori: OPERA BATAK

SELAMAT DATANG DI DUNIAKU, HORAS……!!

ISRAN PANJAITAN


Mauliate, terimakasih, thks, terimong gaseh, kurre sumanga’, makasih beu, xie xie atas apresiasinya yang uda mo mamper di blogku yang sederhana ini, aku cuma orang biasa yang gak biasa supaya jadi biasa makek blog yang biasa, dengan tulisan yang biasa yang kadang kala aku rangkum dari dunia maya yang amat luar biasa  seperti website, blog, forum, social networking, situs-situs berita online, email dll yang sedikit dimodifikasi, pokoknya yang kayak gitu lah seperti biasanya.

Buat sahabat sahabatku di dunia maya yang bersedia tukeran link denganku ISRAN PANJAITAN , boleh tuh tukeran supaya lebih akrab gitu lohh, kayak orang orang.

Tapi jangan lupa nama blogku harus ditulis begini:

ISRAN PANJAITAN

Iklan

INSPIRASI SUPRANATURAL – KISAH MARGA PANJAITAN

Kisah ini terjadi di suatu desa terpencil di hutan belantara daerah Toba, waktu itu penduduk belumlah banyak seperti sekarang ini, namun rumah tempat tinggal mereka sudah memiliki arsitektur yang cukup memadai dan terkesan antik polesan budaya tinggi, Ompung Raja IJOLO yang biasa disebut MOYANG dijaman modern, punya istri cantik baik hati yang bernama ULINAI, setelah mereka berumahtangga beberapa tahun ternyata si istri tak dapat melahirkan anak bagi Raja IJOLO, akhirnya Raja IJOLO memutuskan mengambil istri lagi dengan harapan mendapat keturunan.

Baca lebih lanjut

TILHANG GULTOM – Sang Maestro

Membicarakan dunia opera Batak tentu tidak lepas dari nama tokoh Tilhang Gultom. Pria kelahiran Desa Sitamiang, Pulau Samosir ini pantas disebut maestro dan pelopor opera Batak. Tak hanya sekedar pelopor, lewat karya-karyanya lahir ratusan cerita sandiwara, tari-tari dan juga lagu yang menjadi trade mark dalam setiap pementasan opera yang ada di Sumatera Utara, yang bahkan sampai sekarang lagu-lagunya masih akrab di telinga kita..Sejak usia muda, Tilhang telah mengabdikan dirinya pada dunia seni.

Baca lebih lanjut

SIBORU TUMBAGA

PERAN:

  • Oppu Buasa
  • Boru Tumbaga
  • Boru Buttulan
  • Oppu Buangga
  • Istri Oppu Buangga
  • Partukkot Bosi
  • Warga 1
  • Warga 2
  • Pemburu 1
  • Pemburu 2

TERNATE

Ringkasan cerita:

Dalam suatu kampung nun jauh di pelosok Tapanuli, terdapatlah satu keluarga yang rukun dan bersahaja, dimana hubungan antara seorang Bapak (Op. Buasa) dengan 2 orang putrinya yaitu Boru Tumbaga & Boru Buttulan yang sudah dewasa sangat baik dan harmonis. Op. Buasa adalah seorang Duda yang telah lama ditinggal mati oleh istrinya tersayang. Keluarga ini mempunyai harta yang cukup lumayan antara lain sawah, ladang, ternak dll. Baca lebih lanjut

BATU GANTUNG

PERAN:

  • Bapak Duma
  • Mamak Duma
  • Duma
  • Bapak Pulik
  • Mamak Pulik
  • Pulik
  • Horas

Ringkasan cerita:

Di suatu kampung yang terdapat di propinsi sumatera utara tepatnya di wilayah sekitar Danau Toba tinggallah beberapa keluarga yang hidup rukun dan damai yang masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi yang begitu pekat. Penduduk yang tinggal di sana masih mempunyai hubungan kekerabatan antara yang satu dengan yang lainnya. Tersebutlah salah satu keluarga yang mempunyai satu orang anak perempuan yang bernama Duma. Keluarga Duma mempunyai kerabat yang sangat dekat dengan keluarga Pulik. Baca lebih lanjut

Opera Batak, Riwayatmu Kini…

Opera Batak, Riwayatmu Kini…
Kutipan:   Candra Hariara

Pernah dengar Opera batak?Jenis kesenian teater rakyat itu ternyata sempat merajai dunia hiburan di Sumatera Utara. Hingga dekade 1980-an, opera Batak merupakan tontonan menarik meski diadakan di lapangan terbuka dengan resiko misbar (gerimis bubar : bila gerimis datang maka pertunjukan pun bubar J ).Pada masa jayanya, group opera jumlahnya mencapai 30-an. Diantaranya : Serindo, Serada, Rompemas, Seribudi, Roos, Ropeda, Serbungas, Roserda, Sermindo dan lain-lain.Opera menyajikan cerita sandiwara yang diselingi lagu-lagu, tari-tarian dan lawak. Musik pengiringnya uning-uningan atau seperangkat alat musik tradisional batak yang terdiri dari serunai, kecapi, seruling, garantung, odap dan hesek. Panggungnya sederhana namun cukup unik. Bentuknya menyerupai rumah adat Batak dan diberi hiasan gorga (ukiran khas batak) serta nama operanya. Panggung sengaja diberi lukisan atau property sebagaimana tuntutan cerita. Sebuah tirai penutup menjadi alat penghubung pergantian adegan atau bila acara berganti ke selingan lagu, tari atau lawak. Makanya, opera batak sama durasinya dengan film India. Apalagi kalau sang primadona mampu menghipnotis penonton hingga saweran banyak mengalir, tak jarang sebuah lagu dilama-lamain. Penonton puas meski pertunjukan usai dini hari. Tak peduli pulang menembus kegelapan malam. Maklum saja, tidak seperti sekarang ini alat penerangan listrik pada masa itu belum menjangkau pelosok pedesaan di Sumatera Utara. Nah suasana panggung opera hanya diterangi lampu petromak yang lazim disebut lampu gas, yang terkadang mesti diturunkan untuk menambah angin atau karena kehabisan minyak. Mirip ludruk atau wayang wong dipulau Jawa, opera Batak biasanya berkeliling dari desa ke desa. Sasarannya tentu desa yang baru selesai panen dengan tujuan agar peluang menyedot penonton lebih terbuka. Lama pementasan di sebuah desa tergantung dari kondisi namun biasanya tidak sampai sebulan. Mengingat dunia hiburan jaman dulu terbilang langka tidak heran bila kehadiran opera selalu ditunggu-tuggu masyarakat.Karena berlokasi di alam terbuka maka bukan suatu kejanggalan bila penontonnya duduk margobar atau mengenakan sarung atau selimut untuk melawan dinginnya angin malam. Yang unik, bila tidak ada uang, tiket bisa digantikan beras atau hasil sawah lading asal sesuai dengan nilai tukar yang disepakati J.

Sehingga sering diplesetkan orang.. monis pe dijalo do.. J