Runtuhnya Jembatan Tenggarong, Kutai Kartanegara

Jika mengingat runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara pada tanggal 26 November 2011, maka teringat kembali saya pada lebih kurang 9 thn yg lalu ketika berkunjung ke sana sekitar pertengahan Desember 2002. Saat Panbers diundang untuk mengisi acara Natal Bersama TNI, POLRI & PNS se- Kaltim yg diadakan di Hotel Bumi Senyiur Samarinda yg ketika itu dihadiri oleh kapolda Kaltim & Danrem 091/Aji Surya Natakesuma, Samarinda, KalTim.

Gambar jembatan saat malam hari

Setibanya di Balikpapan kami disambut oleh GM Grand Senyiur Balikpapan seorang Warga Negara Asing alias Bule (lupa namanya) untuk transit sejenak & makan siang untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dgn  diantar oleh mobil bis hotel menuju Hotel Bumi Senyiur Samarinda yg masih 1 group di bawah naungan Senyiur Hotel. Sekitar pukul 3 siang (sekitar 3 jam perjalanan) kamipun sampai di Hotel Bumi Senyiur Samarinda tempat kami menginap.

Gambar jembatan saat siang hari

Di sepanjang perjalanan kami sudah membicarakan tentang kehebatan Tenggarong ibukota Kutai Kartanegara & sudah berencana akan ke sana. Bang Benny (Leader panbers) bercerita panjang lebar tentang kehebatan Tenggarong yg pada saat itu masyarakatnya sudah bisa menikmati sekolah gratis & kesehatan gratis & merupakan kabupaten pertama di Indonesia yg memulai hal itu. Tidak hanya itu tp beliau juga menjelaskan bahwa Kabupaten Kutai kartanegara merupakan daerah TK II di Indoensia dgn pendapatan perkapita tertinggi. Berulang-ulang beliau cerita karena kebetulan beliau sudah lebih dulu ke sana beberapa kali karena Bupati saat itu Syaukani Hasan Rais  jg merupakan sahabat Bang benny. Salah 1 cerita yg sangat menarik yaitu Jembatan  Tenggarong yang katanya mirip Jembatan Golden Gate di San Fransisco. Kami sangat penasaran dgn cerita itu.

Keesok harinya kamipun bersiap-siap utk menuju Tenggarong dgn menggunakan mobil hotel.  Jalan menuju sana kami lalui lewat hutan belantara yg sangat indah, dan jalan tsb seolah membelah gunung & hutan. Saat itu jalan tsb sedang dalam penyelesaian. Luar biasa jalannya kurang lebih spt jalan tol Pejagan (jalan tol yg menghubungkan Brebes – Jeteng & Cirebon – Jabar), lengkap dgn lampu jalannya & mungkin itulah satu-satunya jalan terbaik yg ada di Indonesia.

Tiang Jembatan setelah runtuh

Sampailah kami di jembatan Tenggarong yg disebut juga dgn  Jembatan Mahakam II. Waw luar biasa, itulah kesan pertama yg saya dapatkan. Kamipun memacu mobil dgn sangat lambat supaya dapat melihat dgn jelas jembatan itu.  Bahkan kamipun turun dari mobil menuju seberang untuk melihat jembatan dari sisi kiri & kanannya.

Sebagai info, Jembatan tsb menghubungkan Kota Tenggarong dgn Tenggarong sebagiannya lagi (kecamatan tenggarong seberang) yg berada lebih dekat dgn samarinda atau arah Samarinda jika dari kota Tenggarong. Katanya jembatan ini jembatan gantung terpanjang di Indonesia dgn panjang kurang lebih 700 an meter.

Sisi utara jembatan setelah runtuh

Sebenarnya jembatan ini awalnya bernama “Jembatan Gerbang Dayaku” yang diambil dari slogan pembangunan gagasan Bupati Kutai Kartanegara saat itu, Syaukani Hasan Rais. Entah kenapa sejak Syaukani tidak menjabat lagi sebagai bupati, jembatan inipun berganti nama menjadi Jembatan “Kutai Kartanegara ing Martadipura” atau lebih akrab disebut “Jembatan Kartanegara”, tetapi masyarakat lebih senang dgn menyebut Jembatan Tenggarong, demikian juga dgn Orang-orang Jakarta yg pernah ke sana.

Sisa badan jalan yg runtuh

Dengan adanya jembatan ini memang jarak tempuh Samarinda ke Tenggarong menjadi lebih dekat & cepat, kurang lebih sekitar 30 menit dari jembatan Mahakam I di samarinda ke Mahakam II alias Jembatan Kartanegara tadi.

Yang lebih dahsyat lagi pemandangan di sebelah kanan kita jika menuju arah kota tenggarong, keliatan sebuah pulau kecil yg disebut dgn Pulau Kumala. Pulau tsb merupakan kawasan wisata yg sangat menarik & terdapat sebuah menara serta ada kereta gantung yg bisa menuju ke sana dari arah Kecamatan Tenggarong Seberang.

Kota Samarinda (latar belakang sungai Mahakam)

Masih banyak lagi hal-hal yg dapat kita lihat di Tenggarong. Kami juga menyempatkan berkunjung ke Makam Raja-Raja Kutai dahulu. Yg konon katanya penyebab kematian “Nike Ardilla”  ada di situ. Penasaran..? Datang aja ke sana. Gak enak dijelasin di sini. Kita juga bisa melihat kursi kerajaan & Pakaian raja dari emas.  Bahkan kami menyempatkan mampir ke sebuah keluarga yg memelihara buaya sejak kecil di dalam rumahnya. Penasaran lagi kan..? Makanya ke sana aja. Looh… Kok jadi melebar ceritanya. Dari jembatan ke buaya… hahaha…

Lobby Hotel Bumi Senyiur Samarinda

Ya uda…. demikianlah sebagian pengalaman saya ketika berkunjung ke sana, khususnya setelah melintasi Jembatan Tenggarong (sebutan yg lebih enak), yang sekarang tinggal kenangan. Sayang pada saat itu belum ada HP Kamera, jadi gak ada dokumentasi, sedangkan poket kamera kebetulan gak terbawa alias ketinggalan di Hotel.

Hotel Bumi Senyiur Samarinda

Oke deh segitu aja dulu ceritanya.

Yg mau liat detik-detik runtuhnya Jembatan Tenggarong klik di bawah ini:

Yang mau liat kondisi material Jembatan saat setelah runtuh klik di bawah ini..!

Iklan

3 comments

  1. Apa yg mau di klik Is… orang ga ada apa apa gitu koq, aku pengen liat detik” runtuhnya…. Tp salut keh bisa juga ya nulis…. cuman sayang keindahan yg keh ceritain ga disertai pic nya….

  2. Thanks tas inponya, lebaran kemarin 2011 saya pingin foto di jembatan ini, setelah nganter adik saya kuliah di Samarinda, iseng-iseng ceritannya…eh belum sempat foto, dah rubuh duluan…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s