PLURALISME – FARIZ RM

By: Muna Panggabean, Kompasiana 07 Januari 2011

pengantar:

Pada tanggal 25 desember 2010, Fariz RM bernyanyi di dalam ibadah natal GKI Maulana Yusuf bersama Qasidah Ar-Rahman, dilanjutkan sapaan natal Ulil Abshar Abdalla. Jauh melampaui sebagian kaum muslimin yang masih enggan dan ragu berucap selamat natal, Fariz mantap akan keputusannya. Namun, sebagian teologiman kristen justru mengecam acara tersebut.

pada tanggal 25 desember 2010, fariz rm bernyanyi di dalam ibadah natal gki maulana yusuf bersama qasidah ar-rahman, dilanjutkan sapaan natal ulil abshar abdalla. jauh melampaui sebagian kaum muslimin yang masih enggan dan ragu berucap selamat natal, fariz mantap akan keputusannya. namun, sebagian teologiman kristen justru mengecam acara tersebut.

5 januari 2011, fariz rm berharijadi yang ke-52. bersama wiendy widasari, diani sitompul, si kecil sophia, dan sahat, saya datang berucap selamat. oneng menyambut dengan wajah riang, fariz menyusul 10 menit kemudian. kue harijadi ‘Fariz 52: mengalir lebih deras’ yang kami pesan dari rumah kue Hansel & Gretel tersaji di meja. ditemani sophia, putri diani, fariz meniup lilin, memotong kue, menyuapi sang istri dan memberi kecupan tipis di bibir. saat mencicipi kue double chocolate, fariz terbelalak. luar biasa enak, serunya.

fariz kemudian makan mie panjang umur yang dibawa diani. sahat menghajar 1 dari 7 bungkus nasi padang rumah makan Sederhana yang dibawanya. sebuah perayaan hari jadi yang bersahaja namun hangat. seusai makan, kami berkongkow seru, termasuk membincang komentar beberapa teologiman di facebook soal ibadah natal di gki maulana yusuf, 25 desember 2010. berikut, petikannya:

saya mengenal yesus sejak lahir, berdoa kepadanya, dan rajin mengikuti komuni. itu kebiasaan indah yang menghias masa kecil. ketika mami kemudian menjadi mualaf, saya pun ikut dengannya. saya seorang muslimin yang tidak terlalu taat, jarang sholat, namun berusaha mati-matian menghargai kemanusiaan.

saya hidup di negara yang menetapkan ‘bhineka tunggal ika’ sebagai semboyan yang menghidupi masyarakatnya. ketika kemudian menjadi musikawan, nilai-nilai itu muncul di setiap karya musik yang saya persembahkan. tentu saja saya menolak untuk dikotak-kotakkan ke dalam warna musik tertentu, parpol tertentu, bahkan agama tertentu. saya milik semua golongan. itu cara yang saya pilih untuk bersetia kepada republik tercinta ini.

ketika menerima undangan dari gki maulana yusuf untuk bernyanyi di dalam ibadah natal tanggal 25 desember 2010, oneng sempat sedikit kuatir. saya menenangkannya dengan berkata: jika ini undangan dari tuhan, semua akan dimudahkan. saya bertanya kepada sahat, lagu apa yang harus saya nyanyikan. sobat saya yang ‘setengah dewa’ itu menjawab cepat: Mari Pulihkan Dunia, dan Aku Mau Bilang Padamu. namun, yang bikin saya kaget, pendeta albertus patty meminta agar Mari Pulihkan Dunia dinyanyikan bersama jemaat di dalam ibadah. itu bikin saya bertanya kepada diri sendiri: siapakah saya yang muslimin ini hingga mendapat kehormatan memandu umat kristen menyanyikan lagu pujian kepada tuhannya?

saya lalu terkenang kembali ke masa kecil ketika rajin pergi ke gereja bersama mami. ada rasa haru yang menyeruak. gambar di layar kenangan itu berpindah cepat ke rentang waktu ketika saya berada di dalam penjara akibat sebuah kebodohan yang luar biasa. saat itu, ravenska dan ravenski bercerita tentang suster-suster di sekolah tarakanita yang sering bertanya mengenai keadaan saya di penjara cipinang. “ayah,” kata venska, “beberapa suster menyalakan lilin setiap pagi dan menaikkan novena untuk kebebasan ayah.” doa-doa mereka mewujud. saya dibebaskan dari segala tuntutan. malam pertama kembali berada di rumah, saya merenung dan bertanya: ya allah, kapan saya bisa membalas kebaikan orang-orang kristen itu?

semua kenangan itu memantapkan hati untuk memenuhi undangan gki maulana yusuf. sedikit pun tak ada lagi keraguan. sehari sebelum berangkat ke bandung, saya berkunjung ke rumah mami dan terkejut ketika mendapati dia sedang membaca buku Dari Sebuah Guci. “berhari-hari mami tak bisa lepas dari buku ini, indah sekali,” ucapnya. mami mengaku sudah baca buku tersebut 2 kali, dari awal hingga akhir. “ini yang ketiga kali,” katanya. kepada mami saya ceritakan rencana kepergian ke bandung esok dan bernyanyi di dalam ibadah natal. “pergilah,” ucap mami sambil mengecup pipi saya, “tidak semua orang seberuntung kamu.”

saya memutuskan untuk menyanyikan Aku Mau Bilang Padamu tidak seperti versi yang saya nyanyikan dalam CD Dari Sebuah Guci. syairnya sederhana, tapi sangat menggetarkan dan karenanya perlu disampaikan dengan cara yang juga sederhana: bernyanyi sambil memainkan piano tunggal. semua hentak perkusi saya hilangkan. keindahan syairnya harus sampai ke umat yang mendengar.

tanggal 25 desember itu saya bangun pagi dan menyiapkan diri dengan utuh: tidak cuma pita suara tapi juga hati, karena hanya dengan bersikap jujur sebuah pesan bisa mendarat dengan baik. keluar dari kamar hotel, saya dan oneng bersua dengan sahat dan muna dan langsung menyampaikan selamat natal. kami berdua berangkat ke gereja, jauh mendahului muna dan sahat yang bahkan pada saat itu belum mandi. ya, saya sangat bersemangat menyongsong pengalaman spiritual yang sebentar lagi saya masuki.

di dalam gereja, saya memeriksa keyboard dan sequencer, memastikan semua sudah terhubung dengan baik. segala sesuatu nampaknya berjalan lancar. saat itulah sebuah suara menyelinap keluar sanubari: tuhanlah yang mengundang saya datang ke rumahnya pagi ini. saya ingat betul, dada saya berdebur lembut saat itu.

ibadah dimulai. saya duduk bersama oneng dan muna. aneh, saya sama sekali tidak merasa canggung dengan suasana yang tercipta. saya dan oneng duduk dan berdiri sesuai dengan ajakan yang tertulis dalam tata ibadah. ketika mendengar umat bernyanyi, saya terpana oleh keindahan musikal yang tersaji.

dan, tibalah giliran saya maju ke depan. bohong, jika saya katakan dada saya tidak berdebar. pertama, ini kali pertama saya bernyanyi di pagi hari, beberapa menit sebelum jam 8. kedua, ini kali pertama juga saya bernyanyi di tengah-tengah orang kristen di dalam ibadahnya. sebab, jangankan di dalam gereja, di dalam masjid pun saya belum pernah bernyanyi.

intro mengalun sepanjang 4 bar dan saya lantas terkejut karena keheningan betul-betul menyekap. demi allah, saya kepingin menangis ditemani suasana khusyuk seperti itu. tidak satu pun suara lain terdengar, tidak seperti di konser-konser saya yang riuh dan penuh celoteh. saya betul-betul di bawa ke hadirat allah untuk mengumandangkan pujian kepadanya. larik demi larik saya ucapkan. saya tahu, syair lagu Aku Mau Bilang Padamu ditulis muna panggabean berdasarkan nyanyian pujian maria di injil lukas. sambil bernyanyi saya mengenang devosi dan salam maria yang dulu kerap saya ucapkan di masa kecil. saya terkenang kepada mami, kepada opa dan oma. saya merasa dipersatukan kembali dengan mereka setelah selama ini dicekoki paham-paham yang mengatakan ada tembok pemisah yang kokoh antara umat islam dan umat kristen. itu adalah 4 menit terindah dalam hidup saya. 4 menit yang mengatasi semua kepahitan. dulu, ketika menguburkan anak pertama, saya berkata, “ya allah, aku hadapkan wajah anakku ini kepadamu; tapi beri aku keajaiban agar dapat kembali percaya kepadamu.”  tak cuma satu, tuhan kemudian memberi saya sepasang anak kembar. dan pagi itu, di dalam gedung gereja, tuhan yang dulu saya tantang, tuhan yang dulu saya sangkal, berhadapan dengan saya dan menyinari wajah saya dengan kemuliaanya. kepada dunia cinta mendamba dan mengosongkan dirinya.

saya sangat menikmati khotbah pendeta berty. buat saya, dia adalah imam bagi kemanusiaan yang utuh. dia mengajar saya untuk tidak merasa terpisah dari sesama umat. saya berbahagia sekali dan melamun menyampaikan kabar itu kepada mami di rumahnya. saya membayangkan berkata begini: “mami tidak perlu gelisah. di surga, kita akan berjumpa dengan opa dan oma karena ternyata mereka juga ada di sana.”

damai kian merasuki hati ketika mendengar tuturan yanti kerlip, perempuan berjilbab, pegiat kemanusiaan yang teguh menyapa umat kristen dengan ucapan: saudaraku yang seiman, pagi ini kita merayakan hari kelahiran yesus kristus. it’s ring my bell, bukankah yesus juga nabi yang saya puja?

selanjutnya nafas saya menderu menikmati rancaknya para penabuh ar rahman memukul kendang dan rebab dan kemudian betul-betul tercengang ketika jemaat kristen gki maulana yusuf memberi applause panjang seusai ar rahman mengumandangkan shalawat nabi. inikah indonesia baru itu? ulil abshar abdalla lalu membantu saya dan segenap umat islam untuk meyakinkan umat kristen bahwa kami bukan kaum barbarik yang semena-mena dan mengira punya kuasa untuk mengatur republik ini sendirian. saya bersyukur mendapati islam indonesia memiliki seorang intelektual secerdas dia. ah, pagi itu saya ternyata punya sangat banyak alasan untuk bersyukur.

lalu, puncak acara saya masuki dengan mendendangkan lagu Mari Pulihkan Dunia. itu memang bukan kali pertama saya bernyanyi dengan orang banyak, tapi pagi itu saya bernyanyi bersama mereka kepada tuhan. semua orang bernyanyi sambil bertepuk-tangan: tua-muda, besar-kecil di gedung gereja yang penuh sesak. saya sangat bersukacita. siapa pun pasti larut ke dalam syair yang mudah dicerna, lugas, namun membongkar semua kemapanan.

reff:
mari pulihkan dunia
dengan sepenuh jiwa
sepenuh hasrat, juga semburat
cahaya berpendar di s’k’ilingmu

mari getarkan cinta
dengan keringat kerja
mari ucapkan, juga lakukan
hingga kau rebah.

1/
kepada m’reka yang kalah
(tertindas dan dilupakan)
tarian kita bersembah
kita kabarkan warta
bahwa surga t’lah sunyi
s’bab tuhan ada di bumi
menari bersama kita ==>reff

2/
satu tepukan di bahu
(sapaan lembut dan mesra)
adalah embun penyembuh
sungguh tak ada kubu
cuma hasrat merindu
tuhan melompat riang
bersama kita berdendang==>reff

dan ketika kebaktian usai, saya berdiri di pintu keluar bersama pendeta berty, ulil, muna, dan oneng. rahmat allah yang maha besar terasa diguyurkan ke wajah. ada lebih dari 1000 orang yang menyalami saya dan berkata satu-per-satu: ‘terima kasih atas lagu-lagunya, mas, saya merasa diberkati’. saat itu saya langsung tahu, jika kelak mui atau fpi mengecam keterlibatan saya di dalam ibadah natal ini, saya sudah punya jawaban: ‘menurut kalian, dengan ucapan yang saya terima dari lebih 1000 umat seperti itu, saya akan diganjar pahala atau kutukan?’

saat itu pula saya teringat akan wejangan papi, beberapa jam sebelum dia mengembuskan napas terakhir dahulu.
“is,ingatlah bahwa kamu seorang khalifah.”
“saya tahu, pap”
“tidak, kamu tidak tahu bahwa kamu adalah seorang khalifah bagi para penggemarmu.”
saya tersentak, itu beban yang sangat berat.

‘terima kasih atas lagu-lagunya tadi, mas fariz, saya merasa diberkati.’
masya allah, wejangan papi menemukan wujudnya pagi itu.
(pada bagian ini mata fariz berkaca-kaca)

jadi, kalau para ahli teologi mengecam ibadah natal kemarin, itu berarti mereka sama sekali tidak peka kepada kebutuhan umatnya. mereka membutakan mata bahwa di antara para jemaat ada yang memiliki dilema seperti mami saya; pasti ada dari antara mereka yang berayah-ibu islam, atau berkakek-nenek islam dan selama ini terus dihantui ketakutan tidak bertemu dengan mereka lagi di surga nanti. ibadah natal tanggal 25 desember kemarin telah menyatukan kita semua.  nanti, di surga, suasananya sama seperti di gki maulana yusuf kemarin: orang kristen, islam, hindu, Buddha, kejawen, tao, konghucu, sinto, berdiam di satu rumah, memuji dan menyembah allah yang satu. lebih daripada segalanya, ibadah natal gki maulana yusuf kemarin telah menghadirkan prototipe surga kepada kita.

yang terakhir, saya mau bertanya kepada mereka yang mengecam itu: apakah ada dari antara mereka yang pernah diundang langsung oleh tuhan? saya, fariz rm sudah pernah dan saya memenuhi undangannya pada tanggal 25 desember 2010 di gedung gereja gki maulana yusuf. di sana saya memuliakan tuhan yang turun ke bumi dalam rupa cinta.

sepulang dari bandung saya jadi rajin bersholat. setiap jam 4 pagi saya bangun dan berjalan kaki ke masjid. di sana saya berdoa bagi segenap manusia. saya berdoa buat papi, buat mami, buat venska dan venski yang sedang menuntut ilmu di belanda, buat opa dan oma, buat muna, buat pendeta berty, dan buat buku Dari Sebuah Guci.

sekarang, saya mantap. jika tuhan sudah menetapkan waktunya, saya siap.

Muna Panggabean

seorang pengamat sastra sekaligus pelaku, esais, dan budayawan. tapi yang lebih penting daripada itu semua: seorang ibu rumah tangga, ibu dari 3 puteri dan 2 putera.

Iklan

3 comments

  1. Sungguh satu gambaran yang indah atas kerukunan antar umat beragama.

    Bang Fariz, betapa mulianya hatimu. Namun sayang kemuliaan hatimu itu tidak kau imbangi dengan ilmu. Engkau beramal, hanya menurutkan perasaanmu. Sehingga beberapa statementmu terasa begitu congkak menantang seolah engkaulah yang paling benar. Sama congkaknya dengan para agamawan yang juga merasa dirinya paling benar.
    Sebagai sesama muslim, ijinkan saya mengingatkanmu, para jemaat yang berhasil mangharukan hatimu itu, bahkan engkau merasa dimuliakan oleh mereka, adalah umat yang bahkan tidak mengakui kerasulan Muhammad SAW, yang amat kita cintai itu. Lalu bagaimana engkau bisa merasa trenyuh ketika mereka memuliakanmu, sedang pada saat yang sama mereka bahkan tidak mengakui Rasulmu. Dirimukah yang lebih mulia atau Rasulullah SAW? Tidakkah engkau seharusnya merasa sangat bersedih.

    Dalam urusan kemanusiaan kita wajib bantu mambantu, tapi TIDAK dalam masalah iman dan aqidah. Semoga Allah SWT masih membukakan hatimu wahai Bang Fariz, agar semua fatamorgana itu tidak mengaburkan mata hatimu. Kembalilah pada Al Quran dan As Sunnah agar abang selamat dunia akhirat.
    Pada akhirnya memang kita hanya bisa menunggu, siapakah yang paling benar kelak di hari dimana keadilan Allah ditegakkan.
    Allahlah jua yang Maha tahu.
    Maafkan bila ada kataku yang kurang berkenan.
    Kepada Allah jua aku mohon ampun

    • ibarat tukang bangunan dia mampu membangun rumah orang lain yg bagus & indah tp rumahnya sendiri biasa2 aja, tukang bengkel juga gitu

    • Assalam mas.
      subhanallah saya sangat setuju dengan statement mas
      “Dalam urusan kemanusiaan kita wajib bantu mambantu, tapi TIDAK dalam masalah iman dan aqidah.”

      @bang isran :
      saya ga bisa kasih pendapat panjang2, yang jelas sepertinya mas perlu membaca dan memahami benar isi AlQuran dan Hadist2.. semua begitu nyata disana. peraturan yang boleh dan yang tidak boleh kita lakukan sebagai muslim.
      dan prinsip yang paling penting adalah Agamaku Agamaku. Agamamu Agamamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s