SIBORU TUMBAGA

PERAN:

  • Oppu Buasa
  • Boru Tumbaga
  • Boru Buttulan
  • Oppu Buangga
  • Istri Oppu Buangga
  • Partukkot Bosi
  • Warga 1
  • Warga 2
  • Pemburu 1
  • Pemburu 2

TERNATE

Ringkasan cerita:

Dalam suatu kampung nun jauh di pelosok Tapanuli, terdapatlah satu keluarga yang rukun dan bersahaja, dimana hubungan antara seorang Bapak (Op. Buasa) dengan 2 orang putrinya yaitu Boru Tumbaga & Boru Buttulan yang sudah dewasa sangat baik dan harmonis. Op. Buasa adalah seorang Duda yang telah lama ditinggal mati oleh istrinya tersayang. Keluarga ini mempunyai harta yang cukup lumayan antara lain sawah, ladang, ternak dll.

Op. Buasa mempunyai seorang adik laki laki bernama Op. Buangga. Op. Buangga selalu ingin menguasai harta dari abangnya sendiri yaitu Op. Buasa dan dia sangat serakah. Setelah beberapa lama Op. Buasa menderita penyakit dan bertambah parah, sementara adiknya Op. Buangga selalu menguras hartanya, maka pergilah salah satu dari putrinya yaitu Boru Tumbaga mencari orang pintar (dukun) ke daerah Barus. Konon di daerah itu ada seorang dukun pintar bernama Partukkot Bosi yang sakti.

Di tengah perjalanan menuju Baros, Boru Tumbaga (yang sengaja menggunakan pakaian laki-laki supaya aman dalam perjalanan) bertemu dengan seorang laki-laki yang sudah lanjut usia dan mereka saling berkenalan. Ternyata laki-laki tua itu adalah orang pintar yang sedang dicari oleh boru Tumbaga yaitu Partukkot Bosi. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sampailah mereka di rumah Op. Buasa. Dengan segala daya upaya, Partukkot Bosi mengeluarkan semua kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dari Op. Buasa, tetapi apa hendak dikata, penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan dan akhirnya Op. Buasa meninggal dunia.

Sepeninggalan dari Op. Buasa, keserakahan dan kezoliman Op. Buangga semakin menjadi dan sangat tega mengusir boru Tumbaga dan adiknya Boru Buttulan putri abangnya sendiri dari rumah Op. Buasa, agar Op. Buangga dpat menguasai semua harta dari Op. Buasa. Dalam situasi yang sangat menyedihkan Boru Tumbaga dan Boru Buttulan dengan berat hati meninggalkan rumah tempat kelahiran mereka dan mengungsi ke hutan.

Di tengah hutan mereka bertemu dengan 2 orang pemburu yang sama sekali belum mereka kenal, dan ternyata pemburu tersebut adalah orang yang baik hati sehingga mereka saling berkenalan dan boru Tumbaga dengan sedih menceritakan kisah yang baru mereka alami. Pada saat itu mereka membuat perjanjian . Apabila kedua orang pemburu itu dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami oleh Boru Tumbaga dan adiknya, maka mereka bersedia dinikahi oleh laki laki pemburu tersebut. Akhirnya kedua pemburu tersebut dapat menyelesaikan permasalahan itu dan harta warisan Op. Buasa yang telah dirampas oleh Op. Buangga dikembalikan kepada ahli waris yang sah yaitu Boru Tumbaga dan Boru Buttulan. Setelah itu mereka mengadakan Pesta pernikahan untuk hidup bahagia sesuai perjanjian yang mereka ikrarkan di hutan.

Musik:  uning-uningan lagu siboru tumbaga

BABAK  1

Situasi di dalam rumah, Op. Buasa yang dalam keadaan sakit sedang berbicara kepada Boru Tumbaga putri sulungnya yang berencana berangkat ke Barus untuk mencari orang pintar (dukun). Catatan: Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di perjalanan boru Tumbaga mengenakan pakaian layaknya laki-laki.

Boru Tumbaga: “Pak, saya lihat penyakit Bapak sudah semakin parah, maksud saya biar pergi dulu saya mencari dukun sakti untuk mengobati penyakit Bapak biar cepat sembuh, supaya bapak nanti bisa menikah laki dan mendapatkan anak laki-laki, biar ada nanti saudara laki-laki kami sebagai tempat pengaduan kami. Karena saya lihat Paman itu sudah semakin menguasai harta kita”.

Op. Buasa: “waduh. Maksudmu mau pergi kemana nak, karena dari sini sudah terlalu jauh ke semua perkampungan, lagi pula kamu seorang perempuan mau pergi sendirian. Saya sangat khawatir nak, takut gimana nanti di jalan”.

Boru Tumbaga: “Kalau masalah itu nggak usah kwhawatir pak, biar nanti aku berpakaian laki-laki supaya tidak kelihatan seperti perempuan, sehingga tidak membahayakanku”

Musik:  uning-uningan

BABAK 2

Narasi:

Di tengah perjalanan secara tiba-tiba, si Boru Tumbaga bertemu dengan seorang laki-laki yang sudah tua.

Partukkot Bosi: “Hei, lain sekali saya lihat langkahmu, daritadi aku lihat seperti terburu-buru, permisi juga nggak. Agar kamu tau ya, tidak seorangpun yang berani lewat dari depan saya kalau tidak permisi dulu dari saya, nggak kamu hargai saya”.

Boru Tumbaga: “Kalau begitu Kek, saya minta maaf permisi dulu, karena kebetulan ada yang sangat penting mau saya jemput seseorang, makanya saya buru-buru”.

Partukkot Bosi: “Memangnya mau kemana kamu”.

Boru Tumbaga: “Mau ke daerah Barus kek”.

Partukkot Bosi: “Memang siapa namanya yang mau kamu jemput”.

Boru Tumbaga: “Maaf yang sebesar-besarnya kek, namanya “Datu Partukkot Bosi”.

Partukkot Bosi: “Jadi begini ya cara kamu kalau kamu pergi ke Barus. Memang kenal gak orang yang mau kamu jemput”.

Boru Tumbaga: “Gampang kek, nanti kalau sudah nyampe di Barus kan bisa nanya”.

Partukkot Bosi: “wah untung kamu tadi kelihatan terburu-buru jadi gak capek kamu mencari, Nah sekarang untuk apa kamu mencari Datu Partukkot Bosi”?

Boru Tumbaga: “Mau mengobati ayah saya Kek yang bernama Op. Buasa”.

Partukkot Bosi: “Oh yang orang kaya itu ya, saya juga kenal, yang jelas dia orang baik, kalau begitu ayolah kita pergi ke sana”.

Boru Tumbaga: “Maaf kek, orang yang saya cari aja belum ketemu”.

Partukkot Bosi: “O ya..!! Sayalah yang bernama Datu Partukkot Bosi itu. Akulah yang kamu cari”.

Boru Tumbaga: “Ah masak, terimakasih banyaklah kalau begitu kek, ayolah kek langsung berangkat aja kita sekarang. Perkenalkan nama saya Boru Tumbaga”.

Partukkot Bosi: “O Ya?, jadi kamu seorang perempuan ya. Jadi kamu yang bernama Si Boru Tumbaga putrinya Op. Buasa. Ayolah nak”.

BABAK 3

Narasi:

Keluarga Op. Buasa sedang berbicara dengan Datu Partukkot Bosi.

Boru Tumbaga: “Jadi sekarang tolonglah kek periksa penyakit ayah saya ini”.

Partukkot Bosi: “O ya, Tenang ajalah nak, tunggu dulu sebentar biar saya periksa dulu ramuan saya, kalian diam saja ya” (lalu Partukkot Bosi memainkan sulingnya) “Waduh sudah parah ini nak, biar di bawa kemana juga nggak bakalan bisa diobati. Yang penting perkuatlah berdoa. Jadi sekarang saya permisi dulu karena masih banyak yang mau saya obati”.

BABAK 4

Narasi:

Op. Buasa sudah meninggal dan seluruh keluarga dan warga kampung itu membicarakan dan membahas mengenai harta kekeayaan yang ditinggalkan Op. Buasa.

Warga 1: “Jadi buat kita semua yang hadir, sekarang begini aja, biar bagaimanapun kita harus menjemput adiknya almarhum yang bernama Op. Buangga, biar bisa kita mulai pembicaraan kita”. (selang beberapa saat Op. Buangga telah hadir diantara warga yang berkumpul).

Warga 2: “Sekarang begini pak. Karena almarhum ini adalah orang terpandang dan terhormat di kampung kita, biar bagaimanapun kita harus membuat acara ini sesuai dengan adat istiadat. Dan sepantasnyalah seluruh warga memakan daging kerbau untuk dimakan bersama sama”.

Op. Buangga: “Begini pak. Semuanya itu benar menurut saya. Kalau sudah meninggal habislah semua urusan adat, nggak mungkin kami yang berduka tapi kami yang rugi. Itupun terserah kalian semua. Kalua mau kalian menguburkan abang saya ini silahkan. Tapi kalau tidak ada yang mau, saya sendiripun bisa, biar kuseret aja”.

Warga 1: “Wah kalau begitu Op. Buangga biar bagaimanapun tetap kami kuburkan dengan baik karena kami nanti yang menerima bau busuknya kalau tidak dikubur”. (seluruh warga jengkel)

Op. Buangga: “Ya sudah, kalau begitu cepatlah kalian kuburkan”.

Musik uning-uningan lagu sai boru Tumbaga.


BABAK 5

Narasi:

Terjadilah Perang mulut antara Si Boru Tumbaga dengan Op. Buangga mempermasalahkan harta warisan. Op. Buasa.

Op. Buangga: “Sekarang begini Boru Tumbaga, dimana kalian letakkan semua simpanan almarhum, Mas, duit dan harta simpanan yang lain”.

Si Boru Tumbaga: “Ya kalau mas, uang sudah habis semua paman untuk biaya perawatan ayah selama sakit. Kalaupun ada sisa hanya gabah & kerbau saja”.

Op. Buangga: “Ah kalian pembohong semua, lebih baik kalian pergi dari rumah ini. Cepat pergilah kalian dari rumah ini kalau tidak akan saya bunuh kalian.

Si Boru Tumbaga: “Waduh paman, tega amat Pamanmengusir kami dari rumah ini, terus kemana kami pergi paman?

Op. Buangga: “Mau kemana kalian tidak perduli saya, mampus aja kalian tidak masalah buat saya. Pergi Cepat”. (Si Boru Tumbaga dan adiknya pergi meninggalkan rumahnya dengan tangisan yang menyayat hati)

Musik Uning-uningan

BABAK 6

Narasi:

Setelah Op. Buangga mengusir si boru tumbaga dan adiknya, mereka lari ke tengah hutan. Di tengah kebingungannya mereka bertemu dengan 2 orang pemburu yang baik hati dan mereka saling memperkenalkan diri dan bercerita. Terjadilah kesepakatan diantara mereka sehingga memunculkan suatu perjanjian yang sangat mengikat mereka.

Pemburu 1: “Hey siapa yang sembunyi di situ? Manusia apa bukan”.

Si Boru Tumbaga: “Ya pak kami manusia”.

Pemburu 2: “Kalau kalian memang manusia keluarlah dari situ”. (muncullah si Boru Tumbaga dan adiknya dari semak semak di tengah hutan). “Wah wanita cantik rupanya”.

Pemburu 1: “Kenapa kalian ada di tengah hutan begini”.

Si Boru Tumbaga: “Kami diusir paman kami semenjak ayah kami meninggal dunia. Dan seluruh harta kekayan ayah kami sudah dikuasai paman kami.

Pemburu 2: “Wah tega sekali dia. Siapa nama pamanmu itu”.

Si Boru Buttulan: ”Op. Buangga namanya Pak”.

Pemburu 1: “Op. Buangga yang jahat itu? Sudah lama kami ketahui kejahatannya itu”.

Si Boru Tumbaga: “Kalau begitu tolonglah kami pak, bantu kami menyelesaikan masalah ini”.

Pemburu 2: “Oke baiklah, tapi kalau kami berhasil membunuh Op. Buangga apa imbalan yang kalian berikan buat kami”.

Si Boru Tumbaga: “Begini pak, nggak usah sampai dibunuh yang penting kami bisa kembali ke rumah kami lagi seperti biasa, selama ini kami sudah sakit dan selalu disiksa. Dan kalau berhasil apapun yang kalian minta akan kami penuhi”.

Pemburu 1: “Kalau begitu kami pasti akan bisa menyelesaikan ini dengan baik-baik, tapi berjanji dulu kita kalau rencana ini berhasil maka kalian harus bersedia menjadi istri kami masing masing”.

Si Boru Tumbaga: (sambil merasa sungkan dan malu dan mereka saling melihat satu sama lain dia menjawab) “Baiklah kalau begitu, kami siap”.

Musik uning-uningan.

BABAK 7

Narasi:

Mereka telah kembali di kampung Siboru Tumbaga dan dia memberi petunjuk kepada kedua pemburu tersebut mengenai rumah Op. Buangga, dan kedua pemburu tersebut berhasil menangkap Op. Buangga dan berhasil menyelesaikan permasalahan si boru Tumbaga dengan keluarga Op. Buangga

Pemburu 1: “Hey. Kamu ya jagoan itu”? (sambil menangkap dan menekuk Op. Buangga)

Op. Buangga: “Kenapa kalian menangkap saya , apa salah saya? Saya selalu berbuat baik”.

Pemburu 2: “Nggak mungkin kami menangkap kamu kalau bukan kamu orang jahat. Sekarang ingat kesalahanmu? Kembalikan semua harta Op. Buasa. Cepat…! Kalau tidak kami bunuh”. Tega banget kamu berbuat begitu kepada putri abangmu sendiri”.

Op. Buangga: “Ampun Pak, saya minta maaf. Akan saya kembalikan semuanya pak” (sambil bersujud memohon)

Pemburu 1: “Oke terimakasih, tapi biar jelas bapak ketahui kamilah calon menantu Bapak, karena kami sudah sepakat di tengah hutan”. (Si boru Tumbaga dan adiknya dijemput)

Op. Buangga: “O, kalau begitu harta ini akan saya kembalikan semuanya. Semoga kalian bahagia”.

Si Boru Tumbaga: ”Terimakasih Paman. Tapi karena kami lihat masih ada anak paman yang laki-laki, kami rela dibagi 2 harta ini”.

Op. Buangga: (Dengan sangat terharu) “Baiklah kalau begitu nak, benar-benar kamu anak yang baik dan penurut kepada orangtua dan sekarang walaupun kalian sepakat di tengah hutan untuk menjadi suami istri, saya siap untuk membuat acara pesta pernikahan selama 7 hari 7 malam.

Si Boru Tumbaga: “Terimakasih banyak paman”.

Musik uning-uningan yang gembira.

Segera bergabung dgn group “Opera Batak” di Facebook , klik tautan di bawah ini:

http://www.facebook.com/group.php?gid=138008569570

Created by: Isran Panjaitan 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s