BATU GANTUNG

PERAN:

  • Bapak Duma
  • Mamak Duma
  • Duma
  • Bapak Pulik
  • Mamak Pulik
  • Pulik
  • Horas

Ringkasan cerita:

Di suatu kampung yang terdapat di propinsi sumatera utara tepatnya di wilayah sekitar Danau Toba tinggallah beberapa keluarga yang hidup rukun dan damai yang masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi yang begitu pekat. Penduduk yang tinggal di sana masih mempunyai hubungan kekerabatan antara yang satu dengan yang lainnya. Tersebutlah salah satu keluarga yang mempunyai satu orang anak perempuan yang bernama Duma. Keluarga Duma mempunyai kerabat yang sangat dekat dengan keluarga Pulik.

Suatu waktu keluarga Pulik berkunjung ke rumah Duma dengan tujuan menindaklanjuti pembicaraan yang telah lama mereka rencanakan yaitu perjodohan antara kedua anak mereka yang telah dewasa Duma Dan Pulik (dalam kehidupan masyarakat Batak yang begitu adalah suatu hal yang wajar terjadi). Keluarga kedua belah pihak setuju dan telah sepakat untuk meningkatkan pembicaraan ke jenjang pernikahan.

Setelah Duma mendengar rencana perjodohan dan rencana pernikahan dengan pulik (paribannya) hatinya sangat gundah gulana, sebab Duma tahu bahwa Pulik adalah seorang anak yang idiot dan Duma sendiri telah mempunyai seorang pacar bernama Boy yang menjadi tambatan hatinya.

Dalam situsi ini, Duma mengalami dilema hidup yang cukup pelik, sebab apabila dia menerima perjodohan ini maka dia harus bersedia menikah dengan seorang idiot, tetapi apabila dia menolak perjodohan ini maka keluarga Pulik akan menuntut keluarganya yang telah menyetujui perjodohan itu. Sementara kedua orangtuanya memaksa agar Duma bersedia menikah dengan Pulik, sebab apabila pernikahan ini gagal mereka akan sangat malu dengan keluarga Pulik dan saudara-saudara mereka yang tinggal di kampung tersebut.

Dalam suasana hati yang sangat labil, oleh karena adanya tekanan dan paksaan dari kedua orangtuanya, Duma mengambil jalan pintas. Di tengah malam gelap Duma melarikan diri dari rumahnya menuju suatu bukit di pinggiran danau toba, dan disanalah Duma mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atas bukit itu. Tetapi anehnya tubuhnya tidak bercerai berai terhempas ke dasar jurang melainkan tergantung di antara bukit dan dasar jurang. Inilah awalnya tempat tersebut dan di beri nama ”BATU GANTUNG”.

BABAK 1

Narasi:

Keluarga Bapak Pulik sedang berbincang-bincang dengan rencana hendak pergi ke rumah keluarga Duma dengan tujuan menjodohkan Pulik dengan Duma.

Bapak Pulik:

“Mak Pulik, pada kemana semua orang di rumah ini?”

Mamak Pulik:

“Ada apa sih pak, kok ribut amat”?

Bapak Pulik:

“Kenapa kamu hanya di dapur, bawa dulu kopiku dari situ”.

Mamak Pulik:

“Oh, mau minum, ini kopinya pak, capek ya, dari mana tadi pa”?

Bapak Pulik:

“Dari sawah tadi, melihat harta kita yang sudah begitu banyak, mana anak kita si Pulik”?

Mamak Pulik:

“Lagi main diluar dengan teman-temannya”.

Bapak Pulik:

“Kok main melulu kerjanya, lagi pula temanya Cuma anak kecil”.

Mamak Pulik:

“Ah, namanya juga anak-anak”.

Bapak Pulik:

“Tadi aku ke ladang melihat semua harta kita. Sawah, ladang, kerbau, sapi, kambing yang sudah bertambah tiap hari, dan kamu juga sudah membeli beberapa hektar sawah lagi, dan hewan piaraan kita juga sudah beranak banyak, aku sampai bingung entah berapa jumlahnya, tapi mamak tidak kasih tau dulu kesaya, malah langsung membeli saja”.

Mamak Pulik:

“Kenapa harus dikasih tau, kan masalah uang dan semua harta kita, aku yang atur”.

Bapak Pulik:

“Apa artinya aku sebagai kepala keluarga”.

Mamak Pulik:

“Percuma saya katakan kepada bapak”.

Bapak Pulik:

“Begini mak Pulik, aku punya teman akrab, yang sudah lama tidak ketemu, kebetulan dia sudah dikeluarkan dari pekerjaannya di kota, keahliannya hanya supir, aku sangat kasihan melihat keluarganya dan dia minta tolong, bagaimana kalau kita membeli truk untuk dia bawa? Kalau boleh kamu jual aja beberapa kerbau atau sapi”.

Mamak Pulik:

“Si bapak, malu-maluin aja, aku masih punya simpanan uang banyak, besok aku beli truknya, 10 atau 20 truk, tenang ajalah”.

Bapak Pulik:

“Ngomong-ngomong anak kita dimana, kok belum pulang juga tolong dipanggilkan”.

Mamak Pulik:

“Lik…., Pulik…, Pulik…., sini nak”.

Pulik:

“Apa mak, apa pak, ada apa”?

Bapak Pulik:

“Bapak lagi pusing, aku melihat harta kita sangat banyak, tetapi anak cuma satu, kerjaannya main melulu dengan anak kecil. Kapan kamu dewasa, umur sudah 25 tahun, tapi pikiran seperti anak kecil”.

Mamak Pulik:

“Siapa seperti anak kecil, jangan sembarang ngomong pak, anak kita begitu pintar, ganteng lagi”.

Pulik:

(Masih asyik dengan mainannya sendiri dan tidak menghiraukan perkataan orang tuanya)

Bapak Pulik:

“Begini rencananya mak Pulik, dulu kita sudah jodohkan si Pulik dengan anak pamannya si duma pada saat mereka berdua masih kecil. Bagaimana kalau kita pergi kerumah lae, untuk memperjelas perjodohan itu, karena mereka sudah sama-sama dewasa dan sudah siap untuk dinikahkan. Gimana Pulik? Kamu sudah siap belum, untuk kawin?

Pulik:

“Kawin, ha ha ha enak! Dengan siapa pak? Kawin, kawin, kawin, enak, enak, enak, ha ha ha. Aku udah siap pak, mak, siap”.

Bapak Pulik:

“Bagaimana kamu ini mau dikawinkan sedangkan kamu kerjaannya main-mainan anak kecil, mau kasih makan apa kamu dengan isterimu”?

Pulik:

“Aku kan hanya kawin, yang kasih makan ya nggak ada”.

Mamak Pulik:

“Harta kita begitu banyak, untuk apa semua itu, lagian untuk apa si Pulik repot-repot cari pekerjaan, semua itu sudah cukup untuk si Pulik”.

Bapak Pulik:

“Ya sudah, kalau begitu kita segera berangkat sekarang”.

Mamak Pulik:

“Baiklah kita berangkat, tetapi ingat kamu jangan terlalu banyak bicara, biarkan aku yang bicara kepada ito dan eda”.

BABAK 2

Bapak Duma:

“Hei mamak duma, apa yang selalu kamu pikirkan, hidup ini, sudahlah tak usah terlalu dipikirkan, nasib kita memang sudah begini miskin terus, kekayaan tidak pernah datang, ngomong-ngomong putri kita si Duma dimana”?

Mamak Duma:

“Duma, duma, tolong buatkan kopi bapakmu, agak manis ya, dan bawa ke depan”.

Duma:

“Iya mak” (sambil membawa kopi keruang tamu) “Pak! Mak! aku pergi sebentar ke rumah temanku, ya”?

Bapak Duma:

“Oke, tapi ingat cepat pulang ya nak”?

Mamak Duma:

“Hati-hati ya nak, cepat pulang ya”. “Apa yang bapak katakan tadi, itu sangat benar kenapa nasib kita tidak berubah, dan aku teringat akan janji yang telah kita sepakati dengan eda keluarga si pulik. (tiba-tiba ada tamu yang mengetuk pintu)

Keluarga Pulik :

“Horas lae, horas ito, horas tulang”!

Keluarga Duma :

“horas lae, horas ito, horas bere”!

Pulik:

“Tulang, nantulang, mana si Duma? Tulang kawin tulang, kawin tulang”!

Bapak Duma:

“Paribanmu tadi kerumah temannya, sebentar lagi pasti dia pulang”.

Mamak Duma:

“kamu sehat-sehat aja bere? Kamu sudah besar”.

Pulik:

“Ya nantulang, kawin nantulang, kawin aku mau kawin dengan si Duma, harus jadi. Mak aku mau main dulu ya, minta uang”.

Mamak Pulik:

“Okelah, jangan jauh-jauh mainnya ya nak”?

Bapak Pulik:

“Ada apa rencana kedatangan lae, ito dan bere kami datang kerumah ini”?

Bapak Pulik:

“Begini lae, maksud dan tujuan kedatangan kami kerumah ini adalah menindak lanjuti perjanjian kita yang sudah lama kita sepakati tentang perjodohan antara si Pulik dengan si Duma, pada saat mereka masih kecil, mereka berdua sudah dewasa”.

Mamak Duma:

(sambil bawa air minum) “Silahkan minum kopinya amang, eda”.

Pulik:

(masuk lagi kerumah) “Tulang, nantulang mana si Dumanya, mak kawin mak, panggil Dumanya, cepat mak. Aku mau minum. Mana si dumanya”?

Mamak Duma:

“Sebentar lagi si Duma pasti datang ya bere, sabar ya”.

Pulik:

“Mak minta uang, aku mau jajan”.

Mamak Pulik:

(memberikan uang sambil mengelus-elus anaknya)

Bapak Pulik:

(marah melihat tingkah laku anaknya yang tidak punya sopan santun)

Bapak Duma:

“Oh, kami tidak akan lupa atas semua perjanjian yang telah kita sepakati. Hanya memang kami belum menyampaikan kesepakatan kita kepada si Duma, tetapi jangan kuatir, kami pasti akan menyampaikannya”.

Mamak Pulik:

(marah) “kenapa sudah begitu lama, kalian tak menyampaikan perjodohan anak kita kepada si Duma, apakah ito dan eda hanya menganggap perjodohan ini hanya main-main”?

Bapak Pulik:

“Mak Pulik, jangan begitu terhadap hula-hula kita” (sambil menyabarkan hati ma pulik)

Mamak Pulik:

(marah) “Kamu jangan ikut campur, di rumah aku yang bicara kepada ito/eda, bapak diam saja”.

Pulik:

(masuk kerumah lagi) “Mana si Dumanya”? (sambil mengacak-acak gelas yang berisi kopi) “kawin , kawin ma , kawin”.

Mamak Pulik:

“Sabar nak”. Ito dan eda jangan kuatir tentang perkawinan anak kita, semua pengeluaran dan keperluan pesta kami yang urus, termasuk baju pengantin si Duma, pakaian eda dan jas ito kami akan belikan. Kalian harus pastikan si Duma jadi menantu kami, kalau tidak!!!!!!! Karena sudah sore kami mau pulang” (sambil bersalaman untuk pamit)

BABAK 3

Narasi:

Setelah perbincangan antara kedua keluarga selesai, maka keluarga Pulikpun pulang, beberapa saat kemudian pulanglah Duma dari perjalanan.

Bapak Duma:

“Begini nak tadi siang namboru dan amangborumu datang ke sini bersama dengan si Pulik. Mereka datang untuk meminta kamu menjadi menantunya, karena pada saat kamu masih kecil, kalian sudah kami jodohkan, kami memang belum memberitahukan padamu”.

Duma:

“Pak, mak, kenapa aku baru diberitahu sekarang”?

Bapak Duma:

“Begini nak, pada saat kamu masih kecil kamu pasti belum tau masalah perjodoan, karena sekarang kamu sudah dewasa dan kami anggap kamu sudah siap kami nikahkan dengan paribanmu dan ingat Duma, semua keperluan kita biaya hidup kita, biaya sekolahmu sampai kamu lulus, dan perhiasan yang melekat di tubuhmu, itu semua dari keluarga namborumu”.

Duma:

“Pak, aku sudah menerima lamaran anak orang lain yang akan menjadi pasangan hidupku, kenapa bapak dan mamak memaksaku untuk menikah dengan paribanku si Pulik, padahal kalian kan sudah tau kalau si Pulik itu sangat bodoh dan idiot. Apapun yang kalian katakan aku tidak mau dipaksa menikah dengan si Pulik, lebih baik aku bunuh diri”.

Bapak Duma:

“Tidak bisa, kamu harus menikah dengan si Pulik, harus mau.

Duma:

“Aku tidak mau, apapun yang terjadi aku tidak mau, lebih baik aku bunuh diri”.

Bapak Duma:

(marah) “Pokoknya kamu harus menikah dengan si Pulik, harus, tidak boleh tidak, apa yang dapat kita perbuat untuk mengganti semua yang telah diberikan oleh keluarga namborumu. Mak duma tolong bujuk anak kita supaya mau menikah dengan si Pulik”.

Mamak Duma:

“Duma… anakku, mamak minta dengan sangat agar kamu mau menuruti permintaan bapakmu, sebab apabila kamu menolak, kami akan menerima malu dari keluarga namborumu dan saudara kita dikampung ini, jadi kamu harus menurut”.

Duma:

“Aku tidak mau, lebih baik aku mati bunuh diri”.

BABAK 4

Narasi:

Pada saat dalam keadaan bingung dan merasa tertekan akibat paksaan dari orangtuanya, Dumapun pergi menemui pacarnya yang bernama Horas.

Horas:

(horas bertemu dengan kawan-kawannya dan sedang bercerita tentang hubungannya dengan seorang gadis).

Duma:

“Bang Horas, abang Horas, bang Horas”.

Horas:

“Ada apa sayang kenapa kamu datang kemari, kelihatannya kamu sangat terburu-buru dan sangat ketakutan, apa yang sedang terjadi”?

Duma:

“Begini bang, ada yang sangat penting yang harus abang ketahui, aku dipaksa bapak dan mamak untuk menikah dengan si Pulik anak namboruku yang idiot itu, aku telah menolak permintaan orang tuaku, bagaimana bang, tolong bawa aku kemanapun, atau kita kawin lari aja, kalau abang tidak mau aku lebih baik bunuh diri”.

Horas:

“Duma, kamu jangan cepat putus asa, sabarlah, kalau kita memang jodoh siapapun tidak dapat memisahkan kita, sebab kawin lari tidak baik di mata masyarakat kita, dan orangtuamu tidak mungkin memaksa kamu untuk menikah dengan orang idiot, apa mereka tidak malu punya mantu idiot? Percayalah padaku aku pasti menikahimu, sekarang pulanglah kerumah, percayalah padaku”.

BABAK 5

Narasi:

Keluarga Duma sedang berdiskusi membahas tentang perjodohan Duma dengan Pulik.

Bapak Duma:

“Mak Duma, apa kamu sudak membujuk dan menanyakan pada si Duma tentang rencana itu? Apa jawabanya? Apakah dia sudah mau”?

Mamak Duma:

“Ah….! Aku sudah pusing untuk membujuk anak kita, dia tetep menolak, sekarang, bapak saja yang langsung tanyakan pada dia”.

Bapak Duma:

“Duma…! Duma…! Duma…! Besok keluarga namborumu akan datang ke rumah beserta si Pulik dan seluruh sanak saudara kita untuk menjemputmu, kamu harus mau menikah dengan si Pulik, tidak bisa tidak, harus”.

BABAK 6

Narasi:

Di tengah malam Duma mengambil keputusan untuk kabur dari rumahnya dan pergi ke suatu bukit yang terletak di pinggiran Danau Toba, dan tanpa pikir panjang dia langsung melompat dari atas bukit tersebut bersama dengan seekor anjing yang selama ini sangat setia menemani hari-harinya, dan ternyata lompatan si Duma dan anjingnya pada saat itu bukannya jatuh ke dasar jurang, melainkan mereka berubah menjadi patung batu yang tergantung, yang di kemudian hari diberi nama oleh masyarakat dengan “Batu Gantung”.

Duma:

“Oh Tuhan yang maha kuasa, pencipta semesta alam, mengapa nasibku begini, mengapa aku dipaksa untuk menikah dengan anak namboruku yang idiot dan yang tak pernah kucintai, mengapa orang tuaku sangat memaksakan kehendak mereka, lebih baik aku bunuh diri agar semua masalah ini selesai. Selamattinggal bapak, selamat tinggal mamak dan selamat tinggal abang Horas”.

Created by: ISRAN PANJAITAN, 2009

Segera bergabung dgn group “Opera Batak” di Facebook , klik tautan di bawah ini:

OPERA BATAK

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s